Juknis Lomba Essay HSN 2020 – Tingkat Jawa Barat

Lomba sayembara santri menulis merupakan lomba karya tulis yang diselenggarakan oleh Arus Informasi Jawa Barat yang bekrjasama dengan Robitoh Ma’ahid al-Islamiyah Nahdlatul Ulama Jawa Barat dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional tahun 2020. Sayembara santri menulis ini memiliki tema, “Santri Tangguh di tengah Pandemi”. Diharapkan dengan adanya lomba ini santri memiliki daya kritis terhadap isu pandemi covid-19 yang sedang terjadi saat ini serta menciptakan santri milennial yang melek literasi.

  1. PETUNJUK PELAKSANAAN
    A. Waktu Pelaksanaan
  2. Pengumpulan karya tulis         : 7-19 Oktober  2020
  3. Penilaian oleh dewan juri        : 20-21 Oktober 2020
  4. Pengumuman pemenang         : 22 Oktober 2020
  5. Nama dan Tema Kegiatan

Perlombaan ini merupakan rangkaian acara Hari Santri Nasinal 2020 yang dilaksanakan oleh Arus Informasi Santri Nusantara Jawa Barat yang bermitra dengan RMINU Jawa Barat bernama Sayembara Santri Menulis dan bertemakan “Santri Tangguh di Tengah Pandemi”

       Persyaratan Peserta

  • Peserta merupakan santri di salah satu pesantren.
  • Peserta berusia 17-25 tahun.
  • Karya tidak pernah di publish di media lain (orisinil /tidak copy paste)
  • Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu hasil karya.
  • Setiap peserta wajib mem-follow akun berikut: @rminujabar, @aisnujawabarat, @aisnusantara, dan @nujabaronline dengan mengirimkan bukti screenshoot.

Administrasi Peserta

  • Peserta wajib memenuhi persyaratan.
  • Peserta wajib mengirimkan karya tulis pada waktu yang ditentukan.

Fasilitas Peserta dan Penghargaan Pemenang

  • Fasilitas Peserta

Setiap peserta mendapatkan e-sertifikat.

  • Penghargaan Pemenang
  • Karya akan di post di website resmi aisnujawabarat.or.id

Pusat Informasi

Apabila ada informasi yang tidak dimengerti silahkan mengirim pertanyaan ke WA yang tercantum di pamflet.

PETUNJUK TEKNIS ESAI

1. Ketentuan Lomba

a. Judul esai menyesuaikan tema yang ditentukan, nama penulis  diletakkan dibawah judul.

b. Naskah esai merupakan karya orisinil dan belum pernah dipublikasikan.

c. Naskah esai terdiri dari 3 bagian (tidak harus disebutkan secara eksplisit), yaitu:           
    a. Pendahuluan (latar persoalan dari topik bahasan)
    b. Isi (pembahasan dan analisis)
    c. Penutup (kesimpulan dan saran)

d. Esai ditulis dalam bahasa Indonesia yang sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

e. Esai diketik dengan font Times New Roman, ,ukuran 12 (ukuran judul 14), spasi 1,5.

f. Ukuran kertas A4, margin kanan 3 cm, kiri 4 cm, atas 3 cm, bawah 3 cm, dengan panjang naskah 2-5 halaman.

g. Nama file: Nama_Delegasi pesantren_Judul.

h. Karya tulis dikirim dalam bentuk Microsoft Word ke alamat email: essay@hsnjabar.online  dengan subjek: Sayembara Santri menulis.

i. Karya yang dikirimkan menjadi hak milik penyelenggara untuk keperluan publikasi dengan tetap mencantumkan nama penulis.

2. Kriteria Penilaian

Kriteria penilaian lomba esai meliputi:

  1. Orisinalitas karya dan kesesuaian judul dengan tema : 25%
  2. Format penulisan (tipografi, kerapian ketik dan tata letak) : 10%
  3. Penggunaan tata bahasa yang sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) : 15%
  4. Rasionalisasi ide dan inovasi: 25%
  5. Kemampuan argumentasi dalam pembuatan esai yang informatif: 25%
 
Berikut contoh lampiran Esai:
 

Menjaga Denyut Pesantren di Tengah Pandemi

Pemerintah telah menetapkan Wabah Corona Virus atau Covid-19 sebagai bencana Nasional sejak 7 bulan yang lalu, tepatnya 3 Maret 2020 yang diumumkan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melalui Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Doni Monardo.

Sebagai bencana yang bersifat  nonalam sudah barang tentu wabah ini menjadi sorotan bagi seluruh warga dunia termasuk negara Indonesia dan khusunya pondok pesantren.

Edukasi pencegahan penyebaran virus covid-19 ini terus digencarkan oleh pemerintah sebagai bentuk ikhtiar nyata mengurangi rantai penyebaran virus tersebut. Akan tetapi sangat disayangkan pemberian edukasi ini menjadi salah kaprah ketika media sosial maupun swasta yang seharusnya memberikan arahan positif agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan malah dijadikan wadah aji mumpung meraup keuntungan dengan memberikan informasi yang tidak akurat.

Masyarakat dibuat bingung dengan pelbagai berita yang simpang siur tanpa fakta yang jelas. Media sosial dijadikan ajang berebut kepintaran dan seringkali mengaitkan bencana ini sebagai alat perselisihan antara isu agama dan politik.

Dapat disadari bahwa di era dunia maya yang amat demokratis ini semua orang memilki kesempatan untuk mengeluarkan ekspresi berbicara. Tingginya semangat berpendapat tidak diimbangi dengan bekal tingginya pengetahuan dan keahlian yang dimiliki. Bahkan saat ini bermunculan fatwa pakar kesehatan dadakan yang ingin meraih panggung ketenaran tanpa rasa takut atas apa yang ia sampaikan tersebut suatu saat nanti akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

Imam gozali pernah mengatakan bahwa kerusakan suatu kaum disebabkan oleh orang-orang yang tidak memiliki kompetensi dibidangnya namun tetap berkomentar banyak hal yang sebenarnya bukan kemampuannya. Oleh karena itu santri millenial harus mampu menjadi komoditi masyarakat yang mampu mengajak khalayak umum untuk tetap berikhtiar membentengi diri dari terserangnya virus covid-19 secara lahir batin.

Sampai saat ini jumlah penyintas covid-19 terus bertambah bahkan mulai merambat ke lingkungan pondok pesantren. Keadaan ini menjadikan pondok pesantren harus tanggap dan siap secara lahir batin akan penyebaran virus yang berbahaya ini. Pelbagai kebijakan akhirnya diputuskan oleh para sesepuh pondok. Dan di antaranya terdapat sebagian pondok pesantren yang terpaksa mengembalikan para santri untuk pulang sementara waktu untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran secara daring.

Hal ini tentu dirasakan berat oleh para sesepuh pesantren, mengingat transfer of value dengan pembelajaran online tidak akan tersampaikan secara penuh. Kita menyadari bahwa iklim pesantren sangat memengaruhi proses caracter building yang tidak bisa dirasakan dari rumah. Teladan dari para kyai ketika bertemu secara langsung dalam proses ta’lim menjadi sebuah energi tersendiri, karena setiap ilmu yang disampaikan langsung diaplikasikan pada nilai-nilai keseharian yang tercermin pada perilaku seorang guru.

Di samping itu, terdapat banyak pesantren yang memilih tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran seperti biasa. Para santri yang sebelumnya tidak pernah menemukan keadaan ini dituntut untuk mengikui kebiasaan baru dengan menjaga kebersihan dan melaksanakan  protokol kesehatan, seperti memakai masker ketika sedang melaksanakan aktifitas, menjaga jarak, dan mencuci tangan setiap saat sebagaimana telah disediakan wastafel di setiap sudut pesantren.

Aktifitas terus berjalan sebagaimana mestinya, seperti shalat berjamah, sorogan, wetonan, kerja bakti atau roan. Namun untuk beberapa waktu para santri tidak diperkenankan untuk keluar lingkungan pesantren ataupun dijenguk oleh orang tua.

Peraturan baru tersebut menjadikan para kyai dan bu nyai melakukan inovasi agar para santri merasa nyaman dan tidak merasa bosan dengan keadaan saat ini. Terbukti salah satu pondok pesantren di suatu daerah membangun fasilitas kedai kopi sederhana agar pesantren bisa menjadi sumber inspirasi belajar walau tidak kemana-mana.

Kerjasama dengan dinas kesehatan setempatpun terus dilakukan oleh para kyai dan bu nyai untuk menjaga para santri agar kesehatannya tetap terawasi selama berada di pesantren. Dari sinilah kita menjadi sadar bahwa menjaga kebersihan, kesehatan adalah nilai-nilai ajaran Islam yang harus diamalkan untuk saling menjaga keberlangsungan hidup banyak orang.

Sebagai umat muslim, ikhtiar menjaga kesehatan dengan mengikuti protokol kesehatan harus tetap dibarengi dengan ikhtiar batiniyah dengan terus berdoa, menjaga amalan wirid, serta bertawakkal kepada Allah SWT. Demikianlah agar pesantren tetap berdenyut maka segala aktifitasnya harus tetap dilaksanakan.

Sehingga muncul sebuah slogan “jagalah  iman dan imun”, karena di dalam jiwa yang kuat akan memunculkan stabilitas kekuatan badan yang prima.

(Rachmi)

 

 

1 thought on “Juknis Lomba Essay HSN 2020 – Tingkat Jawa Barat”

  1. M. Ridho Maulana al-Khidri

    Dalam lebih memeriahkan hari santri ini, saya pribadi membuat ajang ini mengukur sbatas apa saya menjadi santri selama ini, dengan mengorientasikannya dengan karya tulis.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *